Kita Ini Buatan Allah: Menemukan Otentisitas di Mata Sang Pencipta
PENDAHULUAN
1.Dalam pencarian akan makna dan identitas diri, banyak dari kita tersesat dalam labirin ekspektasi sosial, tekanan budaya, atau bahkan aspirasi pribadi yang dangkal. Kita bertanya, “Siapakah aku sebenarnya?” Sebuah jawaban yang mendalam dan membebaskan dapat kita temukan dalam Alkitab, khususnya Efesus 2:10, yang menyatakan:
“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya, Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.”
2.Ayat ini Ef 2:10 adalah fondasi yang kokoh bagi pemahaman kita tentang nilai diri dan tujuan hidup. Namun, bagaimana kita bisa benar-benar menginternalisasi kebenaran ini dan hidup secara otentik sesuai dengannya? Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih kaya, mari kita melihat ayat ini melalui lensa pemikiran Søren Kierkegaard, seorang filsuf eksistensialis Kristen yang dengan tajam membedakan antara Kristen nominal dan Kristen otentik.
A.Efesus 2:10: Fondasi Identitas Sejati yang Ilahi
1.Mari kita bedah sebentar Efesus 2:10. Frasa kunci di sini adalah “kita ini buatan Allah.” Dalam bahasa Yunani aslinya, kata yang digunakan Paulus adalah poiēma (ποιημα). Dari kata inilah kita mendapatkan kata “puisi” dalam bahasa Inggris. Jadi, ketika Paulus menulis poiēma, ia tidak sekadar mengatakan bahwa kita adalah sesuatu yang dibuat; ia mengimplikasikan bahwa kita adalah karya agung Allah, sebuah “puisi” yang indah, sebuah mahakarya yang diciptakan oleh tangan-Nya yang sempurna. Ini berarti keberadaan kita bukanlah sebuah kebetulan. Ada tujuan, ada keindahan, dan ada nilai yang melekat pada setiap individu karena kita adalah hasil ciptaan ilahi.
2.Selanjutnya, kita “diciptakan dalam Kristus Yesus.” Ini menegaskan bahwa identitas sejati kita tidak hanya berasal dari penciptaan umum, tetapi dikukuhkan dan diperbarui di dalam Yesus Kristus. Melalui Kristus, kita yang tadinya “mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa” (Efesus 2:1) kini dihidupkan kembali, menjadi ciptaan baru, dengan identitas yang dipulihkan di dalam Dia.
3.Tujuan dari penciptaan ulang ini adalah “untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya, Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Ini adalah panggilan kita, tujuan keberadaan kita. Pekerjaan baik ini bukanlah syarat untuk diselamatkan, melainkan buah alami dari identitas baru kita di dalam Kristus. Allah telah merancang sebuah jalur, sebuah “karya” khusus bagi setiap kita.
B.Lensa Kierkegaard: Melampaui Kekristenan Nominal
Meskipun Efesus 2:10 terdengar begitu memberdayakan, Kierkegaard mungkin akan bertanya: “Apakah Anda benar-benar menghidupi kebenaran ini, ataukah itu sekadar doktrin yang nyaman?” Bagi Kierkegaard, banyak orang yang mengklaim sebagai Kristen pada zamannya (dan di zaman kita) adalah Kristen nominal. Mereka adalah orang-orang yang:
- 1.Mengidentifikasi diri sebagai Kristen tanpa Komitmen Personal: Mereka mungkin dibaptis, rutin ke gereja, dan setuju dengan ajaran Alkitab secara intelektual. Namun, di baliknya tidak ada gairah, perjuangan, atau keputusan pribadi yang mendalam untuk hidup bagi Kristus. Kekristenan mereka adalah label budaya yang nyaman, bukan pengalaman yang hidup.
- 2.Mengabaikan Panggilan “Menjadi”: Jika kita ini poiēma Allah, maka ada panggilan untuk “menjadi” sesuai dengan rancangan itu. Namun, Kristen nominal seringkali menghindari beban dari kebebasan dan tanggung jawab ini. Mereka tidak bergumul dengan pertanyaan eksistensial tentang siapa mereka dan apa tujuan mereka di mata Tuhan, melainkan hanya mengikuti arus.
- 3.Mencari Kenyamanan daripada Transformasi: Kekristenan otentik adalah tentang transformasi, pembaruan pikiran dan hati. Namun, Kristen nominal cenderung mencari kenyamanan dan kemudahan dalam iman, menghindari “salib” atau penderitaan yang seringkali menyertai kehidupan yang sungguh-sungguh mengikut Kristus. Mereka tidak berani menghadapi kerentanan atau kecemasan yang muncul dari pilihan untuk hidup radikal bagi Tuhan.
C.Menjadi Kristen Otentik: Menanggapi Panggilan “Buatan Allah”
Dari perspektif Kierkegaard, untuk benar-benar menghidupi Efesus 2:10 dan menjadi Kristen otentik, kita harus melewati kekristenan nominal dan merangkul sebuah iman yang personal, penuh gairah, dan bertanggung jawab. Ini berarti:
- Mengakui Identitas sebagai Poiēma Allah secara Personal: Ini bukan sekadar mengetahui ayat Alkitab, tetapi sungguh-sungguh percaya dan menginternalisasi bahwa Anda adalah poiēma yang unik dan berharga di mata Tuhan. Ini berarti menerima diri Anda—dengan segala kelebihan dan kekurangan—sebagai karya seni yang dirancang dengan tujuan. Ketika Anda melihat diri Anda sebagai “buatan Allah,” harga diri Anda tidak lagi bergantung pada validasi manusia atau pencapaian duniawi.
- Menyambut Panggilan untuk “Diciptakan dalam Kristus Yesus”: Ini adalah “lompatan iman” yang personal. Itu berarti secara aktif menyerahkan hidup Anda kepada Kristus, membiarkan identitas Anda dibentuk dan diperbarui di dalam Dia. Ini adalah keputusan sadar untuk membiarkan Roh Kudus membentuk karakter Anda, menjadikan Anda semakin serupa dengan Kristus. Ini bukan proses yang instan, tetapi sebuah perjalanan yang berkelanjutan, di mana kita terus belajar untuk “menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru.”
- Hidup dalam “Pekerjaan Baik” yang Dipersiapkan: Ketika kita sungguh-sungguh memahami bahwa kita adalah poiēma Allah yang “diciptakan dalam Kristus Yesus,” kita akan didorong untuk menghidupi tujuan kita. Kierkegaard akan menekankan bahwa “pekerjaan baik” ini bukan sekadar daftar tugas, melainkan sebuah gaya hidup yang otentik. Ini adalah hidup yang berani, di mana kita melangkah dalam panggilan unik kita, bahkan jika itu berarti melawan arus, menghadapi kecemasan, atau berkorban. Ini adalah respons gairah terhadap anugerah Allah, bukan sekadar kewajiban tanpa makna.
- Menanggung Beban Kebebasan dan Tanggung Jawab: Otentisitas berarti menerima beban kebebasan kita untuk memilih dan bertanggung jawab atas pilihan-pilihan itu di hadapan Tuhan. Kita tidak bisa bersembunyi di balik kekristenan nominal atau ekspektasi orang lain. Kita harus berani menjadi diri kita yang sejati, yang dirancang oleh Allah, dan menanggapi panggilan-Nya secara pribadi.
KESIMPULAN
Panggilan untuk Otentisitas Sejati
Efesus 2:10 bukan hanya sebuah doktrin yang indah; ia adalah panggilan untuk hidup yang otentik. Melalui lensa Kierkegaard, kita diingatkan bahwa menjadi poiēma Allah dan “diciptakan dalam Kristus Yesus” menuntut respons yang gairah dan personal. Ini menuntut kita untuk bergerak melampaui kekristenan nominal, untuk berani menghadapi diri kita yang sebenarnya, dan untuk sungguh-sungguh menghidupi tujuan yang telah Allah persiapkan bagi kita.
Mari kita izinkan kebenaran dari Efesus 2:10 ini meresap ke dalam tulang sumsum kita, menginspirasi kita untuk menjadi Kristen yang otentik—pribadi-pribadi yang sejati, yang dibentuk oleh tangan Allah, dan yang dengan berani melangkah dalam rencana indah-Nya bagi hidup kita. Inilah jalan menuju kebahagiaan sejati, bukan karena mudah, tetapi karena kita akhirnya menjadi diri kita yang sesungguhnya di mata Sang Pencipta