MENGANALISA KISAH SEORANG BAPAK

STUDI KASUS

MENGANALISA KISAH SEORANG BAPAK

PENDAHULUAN

Pertanyaan dari seorang bapa  yang sedang merenungkan kembali maksud Tuhan mengizinkannya tinggal di Selandia Baru namun belum mendapatkan pekerjaan tetap yang diidamkannya adalah pertanyaan eksistensial yang sangat dalam. Ini bisa kita dekati dengan menggunakan filsafat Martin Heidegger, namun dengan konteks iman Kristen sebagai kerangka penafsirannya. Mari kita bahas secara bertahap.   

 

I.Heidegger dan Keberadaan di Dunia (Dasein)

1.Heidegger dalam Being and Time menyebut manusia sebagai Dasein – “ada-di-dunia”, makhluk yang sadar akan keberadaannya dan mempertanyakan makna keberadaan itu. Dasein selalu “terlempar” (geworfenheit) ke dalam suatu keadaan: tempat, waktu, budaya, sejarah — yang bukan hasil pilihannya. Seperti bapa  itu yang “terlempar” ke Selandia Baru dengan status residensi tetap.

2.Refleksi Kristen: Dalam iman Kristen, tidak ada yang benar-benar “terlempar secara acak.” Bahkan sekalipun situasi tampak tidak pasti, Allah tetap berdaulat dan mengatur langkah-langkah umat-Nya (Amsal 16:9; Mazmur 37:23). Jadi, “terlemparnya”bapa itu ke NZ bukanlah tanpa maksud, meskipun belum sepenuhnya terlihat.

 

II.Kecemasan (Angst) dan Ketidaktentuan Hidup

1.Heidegger berbicara tentang Angst – kecemasan yang muncul saat Dasein menyadari bahwa semua yang biasa dan akrab (pekerjaan, rutinitas, impian) bisa runtuh. Dalam kecemasan ini, manusia sadar bahwa ia hidup dalam keterbatasan dan ketidakpastian, dan di situlah dia bisa menemukan makna yang lebih dalam dari keberadaannya.

2.Refleksi Kristen: Dalam kekristenan, pengalaman kegelisahan dan ketidakpastian ini justru bisa menjadi undangan untuk masuk lebih dalam ke dalam relasi dengan Allah. Di saat manusia tak lagi punya pegangan duniawi, ia dapat mengalami bahwa hanya Allah yang teguh dan dapat diandalkan (Mazmur 46:2; 2 Korintus 12:9-10). Mungkin Tuhan sedang memanggil bapa itu untuk melihat kembali apa arti keberhasilan dan pekerjaan yang sejati.

 

III. Autentisitas: Hidup Sesuai Panggilan Batin

1.Heidegger menekankan pentingnya hidup secara autentik, yaitu tidak sekadar mengikuti harapan masyarakat, impian lama, atau suara orang lain, tetapi menemukan “suara panggilan terdalam” dalam diri sendiri – yang ia sebut sebagai “panggilan dari Gewissen” (suara hati yang membimbing Dasein kepada kebenaran tentang dirinya).

2.Refleksi Kristen: Dalam terang Injil, suara hati kita dikoreksi dan dituntun oleh Roh Kudus (Roma 8:14-16). Bisa jadi, Tuhan sedang memurnikan impian sang bapa. Apakah “pekerjaan yang diidamkan” itu sesuai dengan panggilan Tuhan yang sejati, ataukah itu impian lama yang belum disaring ulang dengan hikmat ilahi?

 

IV.Waktu dan Penantian: Kairos, Bukan Kronos

1.Heidegger tidak banyak membahas konsep waktu ilahi, tapi ia menyentuh makna waktu sebagai peluang untuk “menjadi otentik.” Dalam filsafat Kristen, ada dua jenis waktu: kronos (waktu kronologis, manusiawi) dan kairos (waktu Tuhan, yang tepat dan penuh makna).

2.Refleksi Kristen: bapa itu mungkin hidup dalam ketegangan kronos – “sudah sekian tahun belum bekerja tetap” – tetapi Allah bekerja dalam kairos-Nya, waktu yang tak selalu sejalan dengan jam manusia. Tuhan bisa memakai masa penantian ini untuk membentuk karakter, kepekaan, dan bahkan membuka panggilan yang baru (Yesaya 55:8-9).

 

V.Makna Hidup Tidak Ditentukan Pekerjaan

1.Menurut Heidegger, manusia sering hidup dalam das Man – hidup dalam opini orang banyak, standar umum, dan pengharapan dunia. Salah satunya: “Aku harus punya pekerjaan tetap supaya berarti.” Tapi dalam hidup otentik, Dasein sadar bahwa makna hidup tidak ditentukan oleh struktur luar itu.

2.Refleksi Kristen: Dalam kekristenan, nilai diri manusia tidak ditentukan oleh status pekerjaan, tetapi oleh identitas sebagai anak Allah (Galatia 3:26; Efesus 2:10). Pekerjaan penting, tapi itu bukan identitas utama. Allah kadang membawa kita pada “keringnya padang gurun” supaya kita kembali kepada siapa kita di dalam Dia (Ulangan 8:2-3).

 

PENUTUP: ANTARA HEIDEGGER DAN HARAPAN IMAN

1.Pertanyaan bapa  ini bukan soal pekerjaan saja, tapi soal makna, panggilan, dan pengharapan. Heidegger menolong kita untuk menyadari bahwa manusia tak bisa hidup hanya dengan rutinitas dan keinginan sosial. Tapi kekristenan menambahkan dimensi pengharapan: Tuhan hadir di tengah ketidakpastian, dan panggilan-Nya tak selalu berjalan menurut logika dunia.

2.Maka mungkin sekarang bukan saatnya menyerah, tetapi saat untuk merenung lebih dalam bersama Tuhan:

  • Apa yang Tuhan ingin bapak  pelajari dalam masa ini?
  • Apakah ada bentuk pekerjaan lain (pelayanan, relasi, kreativitas) yang Tuhan sedang tawarkan?
  • Apakah “pekerjaan tetap” itu memang tujuan, atau alat untuk tujuan ilahi yang lebih besar?