PAUS FRANSISKUS:KESEDERHANAAN YANG MENGGETARKAN DUNIA

Ketika Paus Fransiskus meninggal dunia, dunia seolah berhenti sejenak. Sosok yang selama hidupnya dikenal karena keberpihakan kepada yang miskin dan terlupakan, kini meninggalkan dunia dengan cara yang sama sederhana seperti ia hidup. Pemakamannya tidak hanya menjadi peristiwa religius, tetapi juga sebuah pesan kuat tentang nilai yang kerap terlupakan: kerendahan hati.

Kesederhanaan Hidup Seorang Paus
Sejak awal masa kepausannya, Jorge Mario Bergoglio — yang memilih nama Fransiskus — sudah menunjukkan gaya hidup yang berbeda. Ia menolak tinggal di Istana Apostolik dan memilih rumah tamu sederhana, Domus Sanctae Marthae. Ia tidak ingin dijaga ketat, lebih sering berjalan kaki, dan bahkan memakai sepatu biasa, bukan yang mewah.
Semangat ini bukan sekadar gaya, melainkan pilihan hidup: berpihak kepada mereka yang miskin, tersisih, dan terlupakan. Ia mengajak Gereja untuk menjadi “Gereja yang keluar,” mendekat kepada umat, bukan terkurung dalam kemewahan atau kekuasaan.

Wasiat Kesederhanaan: Peti Kayu dan Pemakaman Bersama Rakyat
Dalam surat wasiat yang ditinggalkannya, Paus Fransiskus meminta hal-hal sederhana untuk pemakamannya. Ia memilih peti jenazah dari kayu polos tanpa hiasan mewah. Ia tidak ingin dimakamkan di dalam Basilika Santo Petrus yang megah, tempat makam para paus agung terdahulu, melainkan di luar basilika, di area sederhana bersama rakyat jelata.
Bahkan di batu nisannya, ia meminta namanya hanya ditulis: Fransiskus — tanpa gelar “Paus” ataupun gelar kehormatan lain. Ia ingin, dalam kematian pun, dirinya tetap menjadi saudara di tengah umat, bukan sosok yang berjarak karena status.

Di Tengah Kemegahan Dunia
Menariknya, meskipun ia menginginkan semua yang sederhana untuk dirinya, Paus Fransiskus tidak menolak adanya Misa Requiem megah. Puluhan raja, presiden, dan pemimpin dunia datang memberi penghormatan terakhir. Liturgi suci dilaksanakan dengan keagungan tradisi Gereja, mengingatkan dunia bahwa kesederhanaan tidak berarti mengabaikan penghormatan, melainkan menempatkan hormat itu dengan cara yang penuh kasih dan hormat kepada semua manusia, bukan untuk membesarkan nama pribadi.

Simbol Kematian Kristus?
Ada pertanyaan yang mengemuka: apakah pemakaman di luar Basilika Santo Petrus ini juga melambangkan kematian Yesus?
Jawabannya bisa ya. Yesus sendiri mati dengan cara yang hina di luar tembok Yerusalem, di Golgota — tempat para penjahat dihukum. Dalam kematiannya, Yesus menempatkan diri-Nya di tengah-tengah mereka yang terbuang. Begitu juga Paus Fransiskus, yang dalam kematiannya memilih untuk ‘berbaring’ di antara rakyat biasa, menghapus sekat-sekat antara pemimpin tertinggi Gereja dengan umat sederhana.

Pesan Kesederhanaan bagi Dunia Modern
Di zaman ketika kekuasaan, kekayaan, dan status sering menjadi ukuran keberhasilan, hidup dan kematian Paus Fransiskus memberikan kritik yang dalam: bahwa kebesaran sejati diukur bukan dari kemewahan, melainkan dari pelayanan dan kasih.
Kesederhanaan Paus Fransiskus mengingatkan dunia bahwa pemimpin sejati adalah yang tidak memisahkan diri dari rakyatnya. Bahwa di hadapan kematian, semua gelar duniawi sirna, dan yang tinggal hanyalah siapa kita di hadapan Allah dan sesama.
Pesan ini semakin dalam mengingat bahwa Fransiskus berasal dari Ordo Jesuit — ordo yang dikenal dengan pengabdian misi dan pendidikan, bukan Ordo Fransiskan yang identik dengan kesederhanaan. Namun dalam nama dan tindakannya, ia menghidupi semangat Santo Fransiskus dari Assisi: hidup miskin, bersahabat dengan yang kecil, mencintai dunia ciptaan dengan rendah hati.

Penutup: Warisan Hati yang Tidak Akan Luntur
Paus Fransiskus telah berpulang, tetapi pesannya tentang kerendahan hati, keadilan, dan kasih bagi yang kecil tidak akan mati. Dunia mungkin akan terus bergerak cepat, membangun gedung-gedung tinggi dan mengejar ambisi, tetapi suara Fransiskus tetap bergema:
“Bersikaplah sederhana. Dekatlah dengan yang miskin. Itulah jalan menuju kebahagiaan sejati.”